Kenali 4 Pola Asuh Ini Sebelum Punya Anak

Berbicara tentang pola asuh, setiap orang tua tentunya memiliki gayanya sendiri-sendiri yang ngga bisa diseragamkan satu sama lain, tapi se-berbeda apapun pola asuh yang digunakan, pasti ada beberapa hal yang sama. Pola asuh adalah konsep psikologis yang merujuk pada perilaku orang tua terhadap anak yang akan mempengaruhi anak secara mental, emosional, fisik, bahkan spiritual di mana pola asuh ini tidak hanya memengaruhi si anak saja, tapi juga kualitas hidup seluruh anggota keluarga.

Seorang psikolog klinis dari Universitas California, Diane Baumrind, mengelompokkan gaya pola asuh orang tua menjadi 4 kelompok, yaitu pola asuh authoritarian, authoritative, permissive, dan neglectful. Ke-4 pola asuh ini mempunyai perbedaan pada cara mengasuh, komunikasi, ekspektasi, dan gaya pendisiplinan orang tua. Hal yang cukup menarik adalah pola asuh orang tua terhadap satu anak dapat berbeda dengan anak yang lain, misalnya bisa saja pada anak yang paling tua, orang tua sangat authoritative, tapi pada anak yang paling kecil, mereka sangat permissive.

Tipe-tipe Pola Asuh

Menurut Diane Buamrind, ke-4 pola asuh tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pola Asuh Authoritarian

Gaya pengasuhan ini menetapkan aturan dan bersikap ketat dengan sedikit atau tanpa kehangatan atau kasih sayang. Orang tua lebih fokus pada menetapkan aturan yang harus diikuti anak-anak mereka dengan segala cara. Biasanya tidak ada justifikasi atau penjelasan tentang aturan tersebut. Selain itu, ada sedikit atau tidak ada ruang negosiasi untuk relaksasi. Orang tua yang otoriter tidak tertarik untuk memahami apa yang mendorong perilaku dan tindakan anak. Oleh karena itu, kebanyakan orang tua ini tidak tanggap terhadap kebutuhan anak mereka. Dengan hukuman yang sering dan komunikasi satu arah dari orang tua ke anak, anak-anak cenderung menjadi bermusuhan dan kurang memiliki keterampilan pengambilan keputusan atau pemecahan masalah.

Beberapa karakteristik dasar dari gaya pengasuhan ini meliputi:

  • Orang tua biasanya tidak mengasuh.
  • Disiplin dan hukuman yang keras.
  • Harapan tinggi dengan sedikit fleksibilitas.
  • Anak yang kurang mandiri dan tidak bahagia.
  • Anak-anak menjadi tidak aman dengan harga diri yang rendah.
  • Keterampilan akademik dan sosial yang buruk pada anak-anak dengan masalah perilaku.

Anak-anak dari orang tua yang otoriter berisiko lebih tinggi mengalami masalah dalam harga diri karena pendapat mereka tidak dihargai. Mereka mungkin juga menjadi bermusuhan atau agresif. Karena orang tua otoriter sering kali ketat, anak-anak mereka mungkin tumbuh menjadi pembohong yang baik demi menghindari hukuman.

  1. Pola Asuh Authoritative

Pola asuh ini sangat berbeda dengan pola asuh otoriter. Pola asuh seperti ini diyakini sebagai pendekatan pola asuh terbaik. Orang tua yang berwibawa menetapkan aturan untuk anak-anak mereka, tetapi mereka juga membiarkan anak-anak mereka memahami mengapa aturan ini penting. Mereka menunjukkan ketegasan dan kehangatan. Tidak hanya mencoba memahami sudut pandang anak, orang tua ini juga tanggap terhadap kebutuhan anak. Karena mereka memiliki harapan yang realistis dari anak-anak mereka, anak-anak cenderung bertanggung jawab serta memiliki keterampilan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang sangat baik. Menurut American Psychological Association (APA), orang tua yang berwibawa mengasuh, responsif, dan suportif, namun menetapkan batasan tegas untuk anak-anak mereka. Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya ini cenderung ramah, energik, ceria, mandiri, mengendalikan diri, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, kooperatif, dan berorientasi pada prestasi. Salah satu perbedaan utama antara authoritative (berwibawa) dan otoriter adalah tipe orang tua ini cenderung mengontrol perilaku anak dengan menjelaskan aturan, berdiskusi, dan bernalar. Orang tua yang berwibawa tidak hanya masuk akal dan pengertian, tetapi mereka penyayang, mengasuh, dan mendukung. 

Gaya pengasuhan otoritatif melibatkan beberapa karakteristik berikut:

  • Harapan dinyatakan dengan jelas dan anak dapat menambahkan masukan.
  • Aturan jelas dan bisa dibenarkan.
  • Komunikasi sesuai untuk dipahami dan diekspresikan oleh anak.
  • Anak-anak bahagia dan mandiri dengan harga diri yang baik.
  • Anak-anak memiliki keterampilan sosial yang baik dengan keberhasilan akademis yang sangat baik.
  • Anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dengan kesehatan mental yang lebih baik.

Orang tua yang berwibawa menginvestasikan waktu dan energi untuk mencegah masalah perilaku. Mereka juga menggunakan strategi disiplin positif untuk memperkuat perilaku yang baik. Para peneliti menemukan anak-anak yang memiliki orang tua yang berwibawa kemungkinan besar akan menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab yang merasa nyaman untuk mengungkapkan pendapat mereka.

  1. Pola Asuh Permissive

Orang tua yang permisif cenderung hangat dan penyayang, tetapi tidak tegas atau menetapkan aturan apapun untuk anak-anak mereka. Orang tua ini responsif terhadap kebutuhan anak-anak mereka dan cenderung memiliki hubungan orang tua-anak yang lebih bersahabat. Karena mereka memiliki ekspektasi yang rendah mengenai pengendalian diri dan kedewasaan, anak-anak mereka mengalami kesulitan untuk mengikuti otoritas dan aturan saat mereka dewasa. Meskipun mereka sangat menyayangi anak-anak mereka, mereka perlu menyadari pentingnya menetapkan batasan. Membiarkan anak-anak selalu melakukan apa yang mereka inginkan dapat membawa pengaruh buruk dalam jangka panjang. Ini adalah salah satu gaya pengasuhan dalam psikologi yang bisa lebih berbahaya. Dalam pola asuh ini, orang tua hangat, tetapi lemah. Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan ini cenderung impulsif, memberontak, tanpa tujuan, mendominasi, agresif. dan rendah dalam kemandirian, pengendalian diri, dan pencapaian.

Beberapa ciri umum gaya pengasuhan ini adalah:

  • Orang tua peduli dan komunikasi terbuka.
  • Orang tua memiliki ekspektasi yang rendah.
  • Anak-anak memiliki kontrol diri yang buruk dan tidak dapat mengikuti aturan.
  • Anak-anak mengembangkan perilaku egosentris.
  • Sebagai orang dewasa, anak-anak ini memiliki masalah dalam interaksi & hubungan sosial.

Orang tua yang permisif mendorong anak-anak mereka untuk berbicara dengan mereka tentang masalah mereka, tetapi mereka biasanya tidak berusaha keras untuk mencegah pilihan yang buruk atau perilaku buruk. Anak-anak dari orang tua seperti ini sering tumbuh dengan masalah perilaku dan memiliki harga diri yang rendah.

  1. Pola Asuh Neglectful

Jenis orang tua ini biasanya tidak terikat dan tidak menunjukkan ketegasan maupun kehangatan. Mereka mengabaikan kebutuhan anak-anak mereka atau hanya memenuhi kebutuhan dasar. Orang tua yang tidak terlibat atau lalai cenderung memiliki masalah kesehatan mental atau menderita penyalahgunaan zat atau tekanan finansial. Jenis orang tua ini menawarkan kebebasan yang berlebihan kepada anak-anaknya dan tidak memiliki harapan atau batasan. Mereka secara sadar tetap terpisah dari anak-anak mereka dan bingung bagaimana menjadi orang tua, sehingga anak-anak terlihat seperti mengurus diri sendiri. Orang tua ini tidak responsif, tidak “hadir” dan terkesan “menolak”, Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan ini cenderung memiliki harga diri dan kepercayaan terhadap orang lain yang rendah. Mereka cenderung mencari teladan lain yang terkadang tidak pantas untuk menggantikan orang tua yang lalai. Ini adalah salah satu gaya pengasuhan yang paling berbahaya dalam psikologi.

Beberapa karakteristik dasar dari gaya pengasuhan ini meliputi:

  • Tidak ada strategi disiplin khusus yang digunakan.
  • Kurang komunikasi.
  • Orang tua tidak hangat atau penyayang dan tidak memiliki harapan dari anak-anak.
  • Anak-anak impulsif dan tidak mampu mengelola emosi dengan cara yang sehat.
  • Anak-anak mungkin memiliki masalah kesehatan mental, masalah perilaku, dan masalah kecanduan.
  • Anak-anak mungkin membutuhkan dukungan atau bantuan dari orang lain.

Anak-anak dengan orang tua yang tidak terlibat cenderung bergumul dengan masalah harga diri. Mereka cenderung berprestasi buruk di sekolah. Mereka juga sering menunjukkan masalah perilaku dan memiliki peringkat rendah dalam kebahagiaan.

Referensi

Kuppens, Sofie, Ceulemans, Eva. (2018). Parenting Styles: A Closer Look at a Well-Known Concept. Journal of Child and Family Studies. DOI: 10.1007/s10826-018-1242-x

Sarmas, Samiullah. (2016). Influence of Parenting Style on Children’s Behavior. Journal of Education and Educational Development. DOI: 10.22555/joeed.v3i2.1036

Tapia, Mike, Clare, Courtney, & Alarid, Leanne. (2018). Parenting Styles and Juvenile Delinquency: Exploring Gendered Relationships. DOI: 10.1111.jfcj.12110

Ditulis oleh : Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *