Istilah helicopter parenting pertama kali digunakan oleh Cline & Fay pada tahun 1990, dalam bukunya yang berjudul “Parenting with love and logic: Teaching children responsibility”. Dalam bukunya, Cline & Fay mengungkapkan bahwa helicopter parenting termasuk gaya pola asuh yang tidak efektif. Mengapa demikian?
Orangtua dengan helicopter parenting disebut seperti ini berdasarkan bagaimana cara mereka mengasuh anak yang bagaikan “helicopter”. Mereka seolah “melayang” dan “melekat” di atas kepala si anak dan bersiap untuk selalu melindunginya, mencarikan solusi, dan menyelesaikan berbagai macam kejadian atau masalah yang mereka anggap dapat menghalangi ataupun menyakiti si anak. Orangtua dengan gaya pola asuh ini sangat berupaya untuk menciptakan dunia yang sempurna bagi anak mereka (Cline & Fay, 2006).
“Helicopter parenting is a picture of a child wrapped in bubble wrap” – Nancy Gibbs
Orangtua dengan helicopter parenting membuat anak terlihat seperti suatu barang yang rentan yang membutuhkan perlindungan penuh. Seperti yang kita ketahui, bahwa bubble wrap berfungsi untuk melindungi barang yang ada di dalamnya, mencegah dari segala macam benturan dan mempertahankan bentuknya agar tetap sempurna. Bubble wrap juga membuat barang di dalamnya tidak dapat bergerak sendiri atau dengan kata lain memiliki gerak yang terbatas. Seperti inilah gambaran orangtua dengan helicopter parenting dalam mengasuh dan mendidik anak mereka.
Helicopter parenting juga disebut-sebut sebagai gaya pola asuh yang membuat orangtua kerap kali mengatur segala aspek terkecil dalam kehidupan anak termasuk dalam hal akademik (Ingen, et al., 2015; Rathor, 2017). Menurut Odenweller, Booth-Butterffield, & Weber (2014), helicopter parenting mengacu pada orang tua yang over-protective dan terlalu banyak terlibat dalam kehidupan anak, sehingga secara terus menerus ingin berkomunikasi, serta mencampurtangani urusan anak, membuat keputusan untuk anak, “berinvestasi” pada tujuan akhir anak, dan menyingkirkan rintangan yang seharusnya dihadapi oleh anak. Gaya pola asuh seperti ini membuat anak akhirnya tidak memiliki suara atas kehidupannya sendiri.
Tentu tidak ada yang salah dengan mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang yang orangtua miliki terhadap anak. Memang sulit rasanya untuk melihat anak merasakan kesedihan, kekecewaan, rasa sakit, dan berbagai macam kegagalan yang mungkin terjadi di kehidupan. Bagi orangtua dengan helicopter parenting, hal-hal seperti itu adalah sesuatu yang sangat tidak mereka inginkan terjadi pada anak mereka. Padahal sebetulnya itu adalah sesuatu yang penting untuk dirasakan oleh anak. Menurut Aznar (2020), pengalaman yang didapat dari kegagalan justru dapat membantu anak dalam mempelajari bagaimana caranya untuk mengatasi suatu masalah dan rasa frustasi, mengembangkan ketahanan diri, serta bagaimana cara untuk dapat meregulasi emosi.
Lalu bagaimana dengan efek dari helicopter parenting?
Memang betul bahwa keterlibatan orangtua dalam kehidupan anak sangat dibutuhkan untuk membantu mereka dalam mempelajari aspek-aspek kehidupan, yang akan mempengaruhi bagaimana anak tersebut dapat berkembang dengan baik ketika dewasa nanti. Hanya saja, memang segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan nampaknya memiliki efek yang kurang baik. Dalam beberapa penelitian, telah disebutkan berbagai permasalahan yang dapat timbul akibat dari helicopter parenting ini. Salah satunya menyebutkan bahwa helicopter parenting dapat membuat anak menjadi lebih bergantungan dengan orang lain dan kesulitan dalam membuat suatu keuputusan (Rathor, 2017). Hal ini terjadi dikarenakan sikap orangtua yang selalu mencampuri urusan anak, serta tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal ini pun akhirnya berkaitan dengan ketidakmampuan anak dalam mengatasi permasalahan – atau dikenal dengan coping skill – psikologis yang dialaminya, seperti kecemasan, depresi, kegagalan, ketakutan, dan rasa kesepian, yang timbul pada masa remaja atau dewasa (Rathor, 2017).
Selain itu, helicopter parenting itu sendiri juga dikatakan memiliki efek yang kurang baik terhadap kondisi psikologis anak. Diantaranya adalah seperti munculnya sifat narsistik, rendahnya self-efficacy, performa akademik dan kemampuan komunikasi yang buruk, depresi, kecemasan, dan gangguan psikologis lainnya (Segrin, et al., 2013). Menurut Ingen, et al. (2015), helicopter parenting dapat membuat anak yang telah memasuki jenjang perkuliahan memiliki kesempatan yang lebih rendah dalam berkomunikasi dengan teman sebayanya, juga dapat membuat anak lebih sering diasingkan, serta menurunnya kepercayaan dari teman-teman sebayanya.
Dalam penelitian lainnya juga disebutkan bahwa helicopter parenting memiliki pengaruh terhadap perasaan malu pada anak usia taman kanak-kanak. Perasaan malu ini kemudian dapat membuat anak mengalami kecemasan, gangguan internalisasi diri, social dissatisfaction, kesulitan dalam berhubungan dengan teman sebaya dan guru, serta kesulitan akademik (Coplan, Arbeau, & Armer, 2008).
Memiliki seorang anak tentunya merupakan suatu anugerah yang luar biasa yang dapat dirasakan oleh orangtua. Bagi orangtua, anak adalah segalanya dan mereka akan melakukan segala upaya demi menjaga dan mendidik anak-anak mereka. Banyak sekali ilmu parenting yang saat ini dapat dipelajari oleh orangtua guna memberikan pola asuh terbaik yang dapat menunjang kebutuhan anak dalam masa perkembangannya hingga dewasa. Sama pentingnya dengan pola asuh terbaik, pola asuh yang kurang baik juga harus menjadi perhatian bagi orangtua guna menghindari terjadinya efek jangka panjang yang ternyata justru merugikan anak.
“While today these “loving” parents may feel they are easing their children’s path into adulthood, tomorrow the same children will be leaving home and wasting the first 18 months of their adult life flunking out of college. Such children are unequipped for the challenges of life. Their significant learning opportunities were stolen from them in the name of love.” – Cline & Fay
Referensi
Aznar, A. (2020, Februari). The Conversation. Diambil kembali dari Over-parenting teaches children to be entitled – let them fail and learn to be resilient instead: https://theconversation.com/over-parenting-teaches-children-to-be-entitled-let-them-fail-and-learn-to-be-resilient-instead-130632
Cline, F., & Fay, J. (2006). Parenting with Love and Logic: Teaching Children Responsibility. Canada: NavPress.
Coplan, R. J., Arbeau, K. A., & Armer, M. (2008). Don’t Fret, Be Supportive! Maternal Characteristics Linking Child Shyness to Psychosocial and School Adjustment in Kindergarten. Journal of Abnormal Child Psychology, 359-371. doi:10.1007/s10802-007-9183-7
Gibbs, N. (2009, November Monday). The Growing Backlash Against Overparenting. United States. doi:http://content.time.com/time/subscriber/article/0,33009,1940697-1,00.html
Ingen, D. J., Freiheit, S. R., Steinfeldt, J. A., Moore, L. L., Wimer, D. J., Knutt, A. D., . . . Roberts, A. (2015). Helicopter Parenting: The Effect of an Overbearing Caregiving Style on Peer Attachment and Self-Efficacy. Journal of College Counseling, 7-20. doi:10.1002/j.2161-1882.2015.00065.x
Odenweller, K. G., Booth-Butterfield, M., & Weber, K. (2014). Investigating Helicopter Parenting, Family Environments, and Relational Outcomes for Millennials. Communication Studies, 407-425. doi:10.1080/10510974.2013.811434
Rathor, S. (2017, August). Literature review: Ramification of helicopter parenting on adolescents and emerging adults. Leeds, West Yorkshire, United Kingdom.
Segrin, C., Woszidlo, A., Givertz, M., & Montgomery, N. (2013). Parent and Child Traits Associated with Overparenting. ournal of Social and Clinical Psychology, 569-595. doi:10.1521/jscp.2013.32.6.569
Ditulis oleh : Fanza
Disunting oleh : Elysa Nasri
