Okupasi terapi telah lama ikut andil dalam pelayanan kesehatan jiwa. Bahkan sebelum profesi okupasi terapi resmi dibentuk pada 1917 di Amerika Serikat, beberapa pioner okupasi terapi sudah sejak lama menerapkan praktik dengan menggunakan okupasi sebagai terapi untuk membantu pasien-pasien di rumah sakit jiwa menjalani kehidupannya kembali.
Menengok kembali ke belakang untuk mengetahui sejarah okupasi terapi dalam kesehatan jiwa dapat membantu okupasi terapis untuk merefleksikan serta memperkuat pondasi pelayanan okupasi terapi saat ini maupun di masa yang akan datang. Seperti apa perjalanan okupasi terapi dalam pelayanannya pada kesehatan jiwa? Keep reading.
The Dark Ages: Masa Kelam Kesehatan Jiwa
Di awal peradaban yang masih kental akan kepercayaan animisme dan dinamisme, masyarakat menganggap penyakit mental disebabkan karena kerasukan roh jahat yang murka. Penyembuhannya sendiri dilakukan dengan berfokus untuk mengusir roh jahat tersebut dengan penggunaan mantra-mantra hingga tindakan ekstrem seperti melubangi tengkorak agar roh jahat meninggalkan tubuh penderita gangguan jiwa. Di masa peradaban Yunani, Hippocrates, yang merupakan seorang tabib dan filsuf, membawa hasil pemikirannya pada masyarakat bahwa gangguan jiwa disebabkan karena ketidakseimbangan cairan tubuh, seperti darah, dahak, serta empedu. Pemikiran ini diadopsi oleh seorang tabib dari Roma bernama Galen, pada abad ke ke-2 Masehi. Galen kemudian menyarankan untuk memberi perawatan yang lebih baik bagi orang yang sakit emosionalnya seperti berjemur di bawah sinar matahari serta penyembuhan menggunakan aktivitas yang kreatif. Namun, kepercayaan akan roh jahat beserta cara penyembuhannya yang tak manusiawi terus eksis.
Berlanjut hingga masa di mana agama memiliki pengaruh besar di daratan Eropa sekitar tahun 550 hingga 1100, pandangan masyarakat mengenai penyakit jiwa tidak lebih baik dari sebelumnya. Pada masa itu, penganut kristen awal memercayai bahwa penyakit jiwa merupakan hukuman akan dosa serta perbuatan roh jahat atau penyihir, sehingga untuk menyembuhkannya, pendeta melakukan ritual-ritual keagamaan di mana pasien disiksa secara fisik untuk mengusir kekuatan jahat dalam dirinya.
Gerakan Moral Treatment
Barulah di awal abad ke-19 muncul gerakan oleh Dr Philippe Pinel dan William Tuke yang memperkenalkan moral treatment sebagai perawatan untuk memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan lebih baik. Pasien jiwa tidak lagi dipasung. Dasar pemikiran moral treatment adalah partisipasi pada tugas atau okupasi yang bervariasi dalam kehidupan sehari-hari dapat mengembalikan pasien jiwa menjadi lebih sehat dan berfungsi secara memuaskan. Ide untuk melibatkan orang dalam okupasi sebagai terapi inilah yang banyak memberikan pengaruh pada konsep awal pembentukan okupasi terapi oleh para pioner. Sayangnya pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat, dengan alasan rumah sakit yang menjadi terlalu padat karena banyaknya imigran serta kurangnya dana, gerakan moral treatment mengalami hambatan dan mulai ditinggalkan.
Perang Dunia Pertama dan Awal Okupasi Terapi
Sejak awal terbentuknya pada tahun 1917, okupasi terapi terus mengalami perkembangan dan beradaptasi pada tuntutan perubahan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks. Kondisi kejiwaan yang ditangani okupasi terapi pun mulai beragam, tidak hanya terbatas pada trauma atau depresi saja. Hal ini juga ditunjang oleh perkembangan disiplin ilmu dari profesi lain yang juga concern terhadap kesehatan jiwa. Okupasi terapi mulai berkembang di tahun 1940 atas pengaruh gerakan rehabilitasi bagi tentara yang baru kembali dari Perang Dunia II di mana mereka berjuang menghadapi masalah fisik maupun psikologis. Di tahun 1950-an, program pelayanan okupasi terapi pada kesehatan jiwa mulai dikembangkan ke arah komunitas. Maurice E. Linden, MD, Ketua Divisi Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Masyarakat di Philadelphia, Amerika Serikat, mendorong praktisi okupasi terapi menyiapkan praktik berbasis komunitas. Beliau menyatakan bahwa rehabilitasi tidak berhenti di level institusional saja, seperti rumah sakit, tetapi harus terjalin hingga terbentuk reintegrasi sosial yang lengkap (Linden, 1956).
Dengan pemindahan pelayanan pasien jiwa dari institusi seperti rumah sakit kepada pelayanan berbasis komunitas di masyarakat (deinstitusionalisasi), yang mencapai puncaknya pada tahun 1963, okupasi terapis mulai bekerja untuk memberi layanan pada kesehatan jiwa di komunitas (Scheinholtz, 2010). Di masa sekarang, fokus okupasi terapi dalam praktik berbasis komunitas adalah dengan recovery model atau model pemulihan. Model ini menyatakan bahwa pemulihan merupakan proses yang panjang dengan tujuan akhirnya adalah untuk berpartisipasi penuh dalam aktivitas komunitas, seperti memperoleh dan mempertahankan pekerjaan, kembali ke sekolah, dan hidup secara mandiri. Dasar filosofi model recovery ini sangat pas bagi okupasi terapi mengingat tujuan okupasi terapi dalam kesehatan jiwa adalah untuk meningkatkan kemampuan individu untuk hidup semandiri mungkin di komunitasnya dengan berpartisipasi dalam peran hidup yang produktif dan meaningful (AOTA, 2010; Scheinholtz, 2010).
Meskipun pelayanan kesehatan jiwa sudah berkembang pesat, termasuk pelayanan okupasi terapi, namun hingga hari ini masih sangat sulit untuk menghilangkan stigma di masyarakat yang melekat pada pasien dengan gangguan jiwa. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam mengembangkan praktik berbasis komunitas bagi pelayanan okupasi terapi dalam kesehatan jiwa. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dari berbagai disiplin ilmu untuk memerangi stigma tersebut sehingga para pasien gangguan jiwa dapat kembali mandiri di komunitasnya.
Referensi
Brown, Catana., Stoffel, Virginia., & Muñoz, Jaime. (2011). Occupational Therapy
in Mental Health: A Vision for Participation. Philadelphia: F. A. Davis Company.
Bryant, Wendy., Fieldhouse, Jon., & Bannigan, Katrina. (2014). Creek’s Occupational Therapy and Mental Health: Fifth Edition. United Kingdom: Churchill Livingstone Elsevier.
Castaneda, Roxanne., Olson, Linda M., & Radley, Laurel. (2013). Occupational Therapy’s Role in Community Mental Health. American Occupational Therapy Association diakses dari https://www.aota.org/About-Occupational-Therapy/Professionals/MH/Community-Mental-Health.aspx pada 22 Oktober 2020.
Kielhofner, Gary. (2009). Conceptual Foundations of Occupational Therapy Practice. Philadelphia: F. A. Davis Company.
Valfre, Michelle. (2017). Foundations of Mental Health Care: Sixth Edition. Missouri: Elsevier, Inc.
Penulis : Hanifa
Editor : Elysa
