Orang Dengan Gangguan Jiwa Bekerja, Apa Bisa?

Bekerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan setiap orang. Melalui bekerja seseorang dapat memenuhi berbagai macam kebutuhannya. Bekerja membuat seseorang dapat memainkan peran mendasar didalam masyarakat (Gorny, 2018). Pekerjaan memegang peranan sentral dalam kehidupan semua orang dan telah diakui sejak zaman dahulu (Broadman, 2003), 

ODGJ Terpinggirkan dan Menganggur

Melihat peran penting dari bekerja membuat seseorang yang mengalami disabilitas berusaha untuk dapat mencapai kemampuan tersebut, salah satunya bagi Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Menurut Rinaldi (dalam Rinaldi & Perkins, 2007), studi di Inggris menunjukkan bahwa lebih dari 70% orang dengan gangguan jiwa ingin bekerja. Namun, meski demikian sekitar 79% ODGJ juga masih menganggur (Rinaldi & Perkins, 2007). Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa ODGJ masih belum dapat melakukan produktivitas dengan baik, walaupun mereka memiliki kemampuan untuk bekerja.

ODGJ menjadi individu yang paling terpinggirkan secara sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Terutama dengan adanya beragam stigma negatif yang masih berkembang di masyarakat tentang ODGJ, sehingga stigma negatif menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat pengangguran yang dialami oleh ODGJ. Padahal menurut Benneth (dalam Broadman, 2003), pekerjaan itu menjadi hal yang sangat penting bagi ODGJ, melihat dari dampak negatif yang muncul dari menganggurnya ODGJ, seperti hilangnya peran, tujuan, dan identitas okupasi dari seseorang. Menurut Lehman (dalam Handajani & Setiawati, 2013), faktor lain yang menjadi penghambat adalah karena adanya diskriminasi yang dialami oleh ODGJ dan rendahnya prioritas status pekerjaan yang diberikan oleh layanan kesehatan mental.

Dampak bekerja untuk ODGJ

Bekerja memberikan dampak yang baik dalam menjaga kestabilan kesehatan mental pasien dan juga dapat mempromosikan pemulihan bagi individu yang memiliki masalah dalam kesehatan jiwa. Pemberian kesempatan bekerja kepada ODGJ dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam masyarakat dengan aktif, serta dapat membantu mereka melawan stigma, prasangka, dan diskriminasi yang ada (Broadman, 2003).

Pekerjaan memungkinkan terbentuknya lingkungan sosial yang inklusi dalam komunitas dan menjadi cara yang penting untuk meningkatkan partisipasi ODGJ secara bermakna dalam komunitas yang lebih luas (Waghorn & Lloyd, 2005).

Vocational Rehabilitation bagi ODGJ

ODGJ yang telah mendapatkan perawatan intensif dan menjalani pemulihan ketika kembali ke masyarakat tentulah mereka ingin dapat memiliki peran dan mampu kembali berbaur dengan masyarakat. Dalam rangka untuk membuat ODGJ dapat menjalankan peran dengan baik di masyarakat maka pemberian intervensi yang berkaitan dengan pemberian pelatihan skill menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Pemberian intervensi rehabilitasi vokasional membantu untuk meningkatkan kapasitas ODGJ dalam melakukan aktivitas vokasionalnya.  

Rehabilitasi vokasional merupakan pendekatan yang menjadi alternatif bagi ODGJ untuk dapat berkerja sehingga mampu kembali bersosialisasi, memiliki kepuasan kerja, memperbaiki self esteem, mengenalkan pada kerja, memperbaiki fungsi sosial serta kognitif ODGJ (Handajani & Setiawati, 2013), pendekatan ini memiliki proses yang terarah dan memiliki rangkaian kegitaan antara laim bimbingan vokasional, latihan kerja, penempatan selektif, yang membantu ODGJ dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. 

Okupasi Terapi memiliki peran yang cukup penting dalam mendukung ODGJ agar dapat kembali bekerja dan berbaur dengan masyarakat. Pemberian terapi OT yang berpusat pada klien ODGJ dalam membantu mencapai kemampuan mereka dalam bekerja dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kinerja, kepuasan, kualitas hidup, dan keterampilan sosial kinerja ODGJ (Dielacher & Höss, 2011). Melihat hal ini, membuat OT makin menyadari bahwa peran terapis sangatlah besar dalam membantu ODGJ dapat menjalankan perannya dengan baik.

Referensi :

Boardman, J. (2003). Work, employment and psychiatric disability. Advances in Psychiatric Treatment9(5), 327-334.

Dielacher, S., & Höss, V. (2011). Ergotherapie in der beruflichen Integration psychisch erkrankter Menschen. Die Rehabilitation50(05), 308-315.

Górny, M. The importance of work in human life and development. The consequences of unemployment.

Handajani, A., & Setiawati, Y. (2013). Rehabilitasi Vokasional pada Pasien Skizofrenia.

Rinaldi, M., & Perkins, R. (2007). Comparing employment outcomes for two vocational services: individual placement and support and non-integrated pre-vocational services in the UK. Journal of Vocational Rehabilitation27(1), 21-27.

Waghorn, G., & Lloyd, C. (2005). The employment of people with mental illness. Australian e-journal for the Advancement of Mental Health4(2), 129-171.

Penulis : Ridha 

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *