Tumbuh kembang anak menjadi hal yang tidak pernah luput dari perhatian setiap orang tua. Masa tumbuh kembang disebut juga sebagai masa golden periode dikarenakan masa ini menjadi pondasi pembentuk karakter, sikap, emosional bahkan kecerdasan anak di masa depan. Masa golden periode sendiri terjadi pada saat anak berusia kurang dari 5 tahun. Usia ini menjadi golden periode bagi anak untuk dapat memperoleh keterampilan dalam persepsi, interaksi, dan Bahasa (Toghyani et al, 2015). Menurut Bandura (dalam Rollè, 2019), pada masa tumbuh kembang inilah orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam berkontribusi dan mendukung kemampuan kognitif serta kemampuan pengaturan diri anak.
Selama ini, masa tumbuh kembang anak selalu identik dengan sosok seorang ibu. Banyak bonding atau kedekatan yang terbentuk antara ibu dan anak. Hal ini tentu wajar, mengingat pentingnya peran ibu dalam proses pengasuhan anak yang sudah dimulai sejak anak berada di dalam kandungan. Hal tersebut membuat sosok ayah menjadi sangat jarang dibahas dalam proses tumbuh kembang anak. Kurang menonjolnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak, tentu bukan hal yang aneh, terlebih lagi jika sosok ayah banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja, sehingga intensitas interaksi dengan anak tentu tidak sebanyak antara anak dengan ibu.
Tanpa disadari, ternyata ayah juga memiliki peran penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keterlibatan ayah ternyata memberikan pengaruh pada kesehatan emosional dan kecerdasan anak. Semakin banyak bukti penelitian yang menunjukkan pengaruh positif yang diberikan karena keterlibatan ayah terhadap perkembangan dan well-being anak. Peran yang dimiliki oleh ayah sedikit unik dan mungkin berbeda dengan ibu. Ayah menjadi pusat kesejahteraan emosional anak, serta penjaga dan pendisiplin yang cakap.
Keterlibatan Ayah dalam tumbuh kembang anak dapat memberikan beragam dampak positif bagi anak. Menurut Yogman (2016), interaksi dengan intensitas yang tinggi antara ayah dan anak akan mendorong anak untuk mengeksplorasi dan mencapai kemandirian, serta peningkatan perkembangan Bahasa tingkat lanjut pada anak. Keterlibatan ayah (kepedulian, bermain, komunikasi) pada anak diketahui juga akan menurunkan resiko gangguan perilaku, depresi, maupun simtom gangguan jiwa pada anak. Sehingga anak akan lebih dapat bersikap dan mengontrol dirinya dengan baik saat ia dewasa nanti (Yogman et al, 2016).
Menurut Colley (dalam Rollè et al, 2019), dukungan dan kehangatan ayah juga dapat meningkatkan keterampilan akademik pada anak. Pada anak dengan special need ataupun penyakit kronis, partisipasi ayah dalam membantu perawatan juga dapat meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan, psikologis dan kesehatan anak dapat menjadi lebih baik (Yogman et al, 2016). Sehingga dapat disimpulkan bahwa bila ayah memberikan kasih sayang secara penuh, suportif, dan terlibat aktif dalam perkembangan anak, hal ini akan memberikan kontribusi besar pada berbagai aspek kemampuan seperti kemandirian, kemampuan kognitif, bahasa, sosial, maupun prestasi akademik yang tentu akan berpengaruh besar pada peningkatan self esteem anak. Selain berdampak pada anak, keterlibatan ayah juga dapat membantu menurunkan tingkat depresi ibu yang mengalami kelelahan dalam pengasuhan. Melihat begitu banyak dampak positif yang timbul dari keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak, membuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan sangat disarankan. Dalam menunjang keterlibatan ayah untuk menjalankan perannya, maka ayah dapat melakukan hal-hal berikut :
- Ayah lebih terlibat aktif dalam pengasuhan bersama ibu
- Ayah perlu menyediakan waktu luangnya untuk anak, terutama saat weekend
- Ayah lebih aktif dalam mengajak anak bermain untuk meningkatkan kemampuan fisik anak
- Ayah terlibat aktif dalam kunjungan ke sekolah, ataupun rumah sakit
- Ayah mengajak anak untuk berkomunikasi dan berbagi cerita
- Ayah memberikan dukungan dan kehangatan pada anak
Peran ayah dalam tumbuh kembang anak sangatlah penting. Seperti yang diungkapkan Paul Amato seorang sosiolog dari Pennsylvania, Amerika serikat, bahwa ketika ayah terlibat lebih aktif dengan anak-anak mereka maka anak akan tumbuh dengan lebih baik. Tentu partisipasi aktif ayah dalam keluarga selalui disukai. Kasih sayang melimpah sebagai hasil dari kolaborasi pengasuhan yang baik antara ayah dan ibu akan sangat berdampak pada karakter positif anak dimasa yang akan datang.
Referensi :
Contemporary Pediatrics. 2019. “fathers influence development and well being children”, diakses pada 16 Juni 14.05, dari https://www.contemporarypediatrics.com/view/fathers-influence-development-and-well-being-children,
Fatherly. 2021. “Science benefits of fatherhood dads father effect”. Diakses pada 16 Juni 14.30, dari https://www.fatherly.com/health-science/science-benefits-of-fatherhood-dads-father-effect/
Rollè, L., Gullotta, G., Trombetta, T., Curti, L., Gerino, E., Brustia, P., & Caldarera, A. M. (2019). Father involvement and cognitive development in early and middle childhood: a systematic review. Frontiers in psychology, 10, 2405.
The Asian Parent. 2019. “Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak”. diakses pada 14 Juni 2021 pukul 10.15, dari https://id.theasianparent.com/peran-ayah-dalam-tumbuh-kembang-anak
Toghyani, R., Shorabi, F. S., Shorabi, H. S., & Tabrizi, S. G. (2015). Check the status of the development of children under age 5 in rural areas of Isfahan using the ASQ questionnaire in 2012-2013 year. Journal of medicine and life, 8(Spec Iss 4), 169.
Yogman, M., Garfield, C. F., & Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health. (2016). Fathers’ roles in the care and development of their children: the role of pediatricians. Pediatrics, 138(1).
Writer : Ridha Amalia
Editor : Riama Claudia
