Dikutip dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, angka penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar di tahun 2018 mencapai 2,29 juta orang. Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi melenial. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisiaris Jendral Polisi Heru Winarko menerangkan, kalangan remaja yang terpapar narkotika lebih rentan sebagai pengguna jangka panjang sebab mereka memiliki waktu yang cukup panjang dalam mengkonsumsi narkoba.
Penggunaan narkoba pada remaja dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya seperti faktor lingkungan, psikologis, genetik, dan rasa ingin tahu. Faktor resiko tertinggi penggunaan narkoba terjadi pada remaja yang tumbuh pada lingkungan pengguna narkoba. Sering kali remaja mengikuti hal-hal yang dilakukan oleh temannya agar ia diakui. Tidak hanya temannya, anggota keluarga yang menggunakan narkoba maupun kondisi rumah yang tidak kondusif bisa menjadi faktor pemicu remaja ingin menggunakan narkoba. Stres akibat masalah dari sekolah, rumah, maupun masalah lainnya membuat remaja mencari tempat pelarian. Tempat pelarian ini dalam hal negatif bisa menjadi cara remaja untuk mulai mencoba menggunakan narkoba. Narkoba bisa memberikan efek percaya diri, bahagia, dan berenergi terhadap remaja dalam sesaat. Bila dibiarkan, remaja dapat mengalami kecanduan dan berujung pada kematian. Selain itu, rasa ingin tahu dari remaja juga dapat membuat remaja penasaran untuk mencoba dan pada akhirnya menyebabkan kecanduan.
Agar remaja terhindar dari narkoba, orang tua sebaiknya memberitahu remaja mengenai bahaya narkoba. Dengan informasi yang jelas dan benar, remaja dapat mengerti dan memahami bahaya narkoba. Bila remaja sudah terlanjur kecanduan narkoba maka orang tua perlu berbicara dengan tenang. Emosi yang berlebihan bisa membuat remaja semakin stres. Orang tua dapat membawa remaja ke psikiater untuk menjalani konsultasi dan pemeriksaan. Setelah itu psikiater mungkin akan menyarankan remaja untuk menjalani sesi psikoterapi, rehabilitasi narkotika, dan memberikan pengobatan.
Alasan utama klien mengikuti Rehabilitasi Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) adalah untuk menangani kecanduan serta mengembangkan keterampilan Klien untuk mengatasi kecanduan setelah dipulangkan. Peran Okupasi Terapis (OT) di Rehabilitasi NAPZA adalah membekali klien dengan keterampilan untuk membantu mereka agar tetap terbebas dari NAPZA. OT difokuskan pada pengembalian kemampuan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, minum, mandi, mengenakan pakaian, dll. OT membantu klien membangun kembali peran dan identitas mereka. Penanganan yang dilakukan OT diantaranya adalah Penggunaan aktivitas sebagai alat terapeutik untuk memfasilitasi minat atau menemukan identitas diri.
PERAN OT
Penggunaan NAPZA berdapak negatif terhadap kinerja ADL (Activities Daily Living), IADL (instrumental activities of daily living), pemanfaatan waktu luang, dan partipasi sosial.
Sutherland dan Shepherd (2001) menjelaskan alkohol dan penggunaan narkoba pada remaja dikaitkan dengan kesulitan akademis, penurunan nilai, ketidakhadiran, putus sekolah, serta mempengaruhi kehidupan remaja seperti kinerja okupasi, kesehatan, kesejahteraan, dan kehidupan sosial. Klien dengan penyalahgunaan NAPZA biasanya akan mengabaikan peran, tugas, dan aktivitas sehari-hari karena aktivitas penyalahgunaan NAPZA yang menghabiskan waktu dan minat mereka. Oleh karena itu, mereka membutuhkan intervensi untuk mengurangi dampak penyalahgunaan NAPZA.
Contoh intervensi OT dalam rehabilitasi NAPZA bisa berupa pemanfaatan waktu luang/leisure dan eksplorasi, contohnya melakukan aktivitas tenis, sepak bola, renang, karate, boot camp, terapi relaksasi, life skill, seni dan kerajinan, serta pengembangan keterampilan.
Intervensi OT mencakup pengembangan sosial dan vokasional untuk mengatasi keinginan dan menjauhi NAPZA. Keterampilan lainnya adalah keterampilan komunikasi, sebab sebagian besar klien mampu terbebas dari pengaruh NAPZA karena klien dapat mengkomunikasikan perasaan mereka. Selain membantu menjauhi NAPZA, komunikasi dapat membantu klien membangun dan mengembangkan hubungan baik dengan keluarga maupun teman. Jika klien tidak memiliki ikatan sosial dengan orang lain, klien dapat menggunakan keterampilan lain seperti membuat diary sebagai cara mengekspresikan perasaan mereka.
OT berperan dalam pembuatan aktivitas bermakna, seperti melipat baju, membersihkan lemari, membersihkan kamar, dll. Aktivitas bermakna dapat membantu klien melupakan kebiasaan menggunakan NAPZA. OT juga memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi kegiatan mengisi waktu luang serta menerapkan pengembangan keterampilan, seperti membuka salon atau berkebun. OT juga dapat membuat berbagai kegiatan seperti talent show dan sport day untuk membangun rasa percaya diri klien.
OT berusaha untuk mendukung individu untuk menyadari potensi mereka dengan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dan berkontribusi pada masyarakat (Ribeiro M, Oliveira L. 2005). Selain itu, dibandingkan praktisi lain OT dianggap profesional yang berhubungan lebih langsung dengan klien sehingga memiliki tingkat kedekatan dengan Klien lebih dari profesional lain.
TUJUAN REHABILITASI NAPZA
- Keterampilan komunikasi
Stoffel dan Moyers menemukan bahwa klien yang menerima intervensi keluarga mampu membangun kembali hubungan interpersonal dengan anggota keluarga yang hilang saat mereka menggunakan narkoba serta memiliki peluang lebih besar untuk tidak kambuh selama setahun dibanding klien dengan intervensi individu. Selain ‘berbicara langsung’, menulis diary juga berguna untuk mengekspresikan perasaan mereka dibandingkan memendam emosi di dalam diri.
- Pemanfaatan waktu luang/leisure
Waktu luang didefinisikan sebagai aktivitas yang secara intrinsik dimotivasi dan dilakukan selama waktu luang, yaitu pemanfaatan waktu yang tidak berkomitmen untuk pekerjaan wajib seperti perawatan diri atau tidur (Parham LD, Fazio LS: 250). Sebagian besar klien menyatakan tidak menggunakan waktu luang mereka karena pengaruh penggunaan NAPZA.
Salah satu bagian dari proses intervensi Rehabilitasi NAPZA adalah memperkenalkan kembali kegiatan olahraga dan rekresasi, contohnya permainan sepak bola dan menari. Keterlibatan klien pada waktu luang akan berkontribusi pada perasaan puas dan kesehatan secara keseluruhan.
- Kemampuan untuk bekerja
Program pengembangan keterampilan ini membantu klien untuk mendapatkan pekerjaan setelah pulang dari Rehabilitasi NAPZA, pekerjaan yang dilakukan diantaranya pekerjaan yang menghasilkan upah atau pekerjaan sukarela.
Pada klien remaja, Winters (1999) menyatakan umumnya rehabilitasi penggunaan narkoba remaja lebih banyak ditekankan pada pendidikan, termasuk tugas sekolah.
Sementara itu, Williams dan Chang (2000) dalam Teneil Bell et al (2015) mengungkap bahwa keterlibatan remaja dalam pekerjaan dan sekolah, pergaulan dengan teman yang tidak menggunakan narkoba, dan keterlibatan dalam kegiatan waktu luang merupakan “outcome” atau hasil rehabilitasi dari pusat perawatan penggunaan narkoba di Amerika.
Dengan demikian, rehabilitasi NAPZA pada remaja tidak hanya membantu klien untuk belajar. Klien juga mendapat kemampuan untuk bekerja. Di sisi lain, kemampuan ini dapat mendekatkan klien dengan keluarganya.
Referensi
Bell, Teneil et.all. 2015. Clients’ Perceptions of an Occupational Therapy Intervention at a Substance Use Rehabilitation Centre in the Western Cape. South African Journal of Occupational Therapy. Vol 45 no 2
J. Ribeiro et.all. 2019. The intervention of Occupational Therapy in drug addiction: a case study in the Comunidade Terapêutica Clínica do Outeiro – Portugal. Ciência & Saúde Coletiva, 24(5):1585-1596
PUSLITDANTIN. 2015. Penggunaan Narkotika di Kalangan Remaja Meningkat. di akses 7 Maret 2021, dari https://bnn.go.id/penggunaan-narkotika-kalangan-remaja-meningkat/
Penulis : Fitria Muhaimin
