Keluarga adalah kumpulan individu yang saling menolong, merawat (Aldous. 1999), serta memberikan pemahaman terhadap cinta, perhatian, keterhubungan dan komitmen (Bogenschneider, 2002). Keluarga saling memberikan dukungan keuangan atau materi sebagai satu kesatuan yang memiliki ikatan emosional (Koerner, A. F., & Fitzpatrick. 2004) (Levin, I. 1999). Keluarga juga berperan sebagai struktur sosial dasar (basic social structure) untuk perkembangan sosial di masyarakat (primary social function) (Winch, R. F. 1963).
Namun, saya menyadari bahwa tidak semua orang mendapatkan keberuntungan memiliki keluarga yang bisa saling menerima kekurangan, mencintai dalam keterbatasan sebagai manusia yang saling terikat hubungan darah dan emosional khusunya bagi anggota keluarga dengan riwayat gangguan mental.
Saya melakukan wawancara tidak terstruktur terkait dengan bagaimana pandangan pasien terhadap keluarga. Wawancara ini dilakukan di Ruang Rehabilitasi Psikososial Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku.
Penyandang diasabilitas mental yang saya wawancarai merupakan pasien inventaris di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Maluku (RSKD), artinya pemerintah atau otoritas setempat telah menjamin dan memelihara kehidupan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di rumah sakit dengan tidak mengesampingkan hak asasi manusia yang dimiliki tiap individu sesuai implementasi pada Undang – Undang Nomor 3 Tahun 1966 Tentang Kesehatan Jiwa.
Dalam dokumentasi catatan rekam medis yang saya peroleh, beberapa pasien ODGJ yang dirawat di RSKD ditemukan dipinggir jalan menjadi gelandangan psikotik. Ada juga keluarga yang mengantar pasien untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit, namun setelah masa perawatan dan rehabilitasi selesai, keluarga tak kunjung datang menjemput.
Fenomena ini terjadi karena pilihan keluarga untuk merawat dan tinggal bersama pasien skizofrenia akan menimbulkan permasalahan yang akan dialami oleh seluruh anggota keluarga. Perubahan yang dapat memicu munculnya stres terhadap keluarga, antara lain gejala skizofrenia yang mengganggu, perubahan rutinitas, dan aktivitas seluruh anggota keluarga sehari-hari, ketegangan hubungan keluarga dengan lingkungan sosial, kehilangan dukungan sosial, berkurangnya waktu luang, dan kondisi keuangan yang memburuk (Eija, S. 2003).
Konsekuensi yang kemudian timbul dan harus dibebankan terhadap ODGJ adalah timbulnya stigma dimana ODGJ terjebak dalam kondisi terdiskriminasi dari lingkungan karena citra negatif yang membuat masyarakat atau keluarga menjadi takut, menghindar, dan menolak (Stuart, G. W. 2009). Stigma juga terjadi karena ketidaktahuan, rasa takut akan cedera, pengobatan yang tidak kunjung membuahkan kesembuhan, kesalahpahaman budaya (kurangnya informasi) tentang sifat penyakit mental, dan asosiasi antara penyakit mental dengan aspek supernatural (Asrat, B., Ayenalem, A. E., & Yimer, T. 2018) (World Health Organization. 2002) (E. Girma, A. M., M, Tesfaye., & G, Froeschl. 2014) (S. Aphroditiz & M. Michael. 1998) (E. Girma., M. Tesfaye., G. Froeschl, A. M., & N. Muller. 2002)
Pengalaman pasien menghadapi sikap keluarga berupa penolakan yang mengakibatkan kekerasan fisik, verbal, dan pengucilan dari keluarga dijelaskan oleh pasien sebagai berikut:
“Bapak bilang sampai matipun saya tidak akan bawa kamu pulang” – Ny.S dengan diagnosa skizofrenia paranoid
“Saya dulu takut pulang karena mama sering marah – marah” – Ny. A dengan diagnosa bipolar syndrome
“Kadang saya dimarahi orang tua/bapak tiri dimaki – maki akhirnya saya kabur menggelandang dijalan” – Ny. Iv dengan diagnosa skizofrenia paranoid
“Keluarga masih ada, punya banyak keluarga tapi mereka sibuk karena sudah menikah… kadang – kadang saja mereka datang jenguk” – Ny A dengan diagnosa bipolar syndrome
Stigma berupa penolakan, stereotip yang mengakibatkan kekerasan fisik, dan verbal terhadap ODGJ dapat menimbulkan internalisasi stigma, yaitu konsekuensi psikologis dari stigma sosial (termasuk keluarga dan masyarakat) karena individu yang didiagnosis dengan penyakit mental mempersepsikan dan menginternalisasi stereotip negatif, prasangka dan kesalahpahaman tentang penyakit mental yang terjadi di masyarakat, ODGJ akan mempersepsikan dan menginternalisasi ide dan nilai stigma yang terjadi di masyakarat, mereka akan percaya bahwa ODGJ adalah kelompok individu dalam komunitas sosial yang pada kenyataannya kurang dihargai karena gangguan kejiwaan mereka (Corrigan, P. W., & Watson, A. C. 2002). Penolakan, kondisi emosional keluarga yang tidak mendukung dan ketidakpedulian sertalingkungan yang toxic kemungkinan besar membuat ODGJ merasa bahwa keluarga bukan lagi tempat untuk mendapatkan cinta dan perlindungan, sehingga ODGJ lebih nyaman berada di rumah sakit.
Pada akhirnya, meskipun merawat anggota keluarga yang didiagnosis dengan gangguan kesehatan mental menimbulkan banyak permasalahan, namun hal tersebut menciptakan lebih banyak peluang untuk menciptakan keterbukaan (openness), kesiapan (readliness), dan penerimaan (acceptance) yang memberdayakan setiap keluarga untuk menghargai (appreciate), mengakui (acknowledge), dan menegaskan keutuhan anggota keluarga dengan riwayat gangguan mental (I. Panes, C. P. Tuppal, M. D. C. Reñosa, M. E. P. Baua, & P. D. 2018).
Daftar Pustaka
Aldous, J. (1999). Defining families through caregiving patterns. Marriage & Family Review, 28, 145-159
Bogenschneider, K. (2002). Family policy matters: How policymaking affects families and what professionals can do. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum.
Koerner, A. F., & Fitzpatrick, M. A. (2004). Communication in intact families. In A. L. Vangelisti (Ed.), Handbook of family communication (pp. 177-195). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum
Levin, I. (1999). What phenomenon is family? Marriage & Family Review, 28, 93-104.
Winch, R. F. (1963). The modern family. New York: Holt, Rinehart & Winston.
Eija Stengård (2003) Educational intervention for the relatives of schizophrenia patients in Finland, Nordic Journal of Psychiatry, 57:4, 271-277, DOI: 10.1080/0803948031000209
Stuart, G. W., (2009). Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart, Edisi Indonesia pertama. Budi Anna Keliat dan Jesika Pasaribu. Singapore . Elsevier
Asrat, B., Ayenalem, A. E., & Yimer, T. (2018). Internalized Stigma among Patients with Mental Illness Attending Psychiatric Follow-Up at Dilla University Referral Hospital, Southern Ethiopia. Psychiatry journal, 2018, 1987581. https://doi.org/10.1155/2018/1987581
World Health Organization. (2002). Reducing Stigma and Discrimination against Older People with Mental Disorders. WHO. Geneva, Switzerland.
E. Girma, A. M. Moller-Leimk ¨ uhler, S. Dehning, N. Mueller, ¨ M. Tesfaye, and G. Froeschl. (2014). Self – Stigma Among Caregivers of People With Mental Illness: Toward Caregivers Empowerment. Journal of Multidisciplinary Healthcare, vol. 7.
S. Aphroditiz and M. Michael. (1998). Stigma Related to Help Seeking for Mental Health Professionals, University of Athens, Athens, Greece.
E. Girma, M. Tesfaye, G. Froeschl, A. M. Moller-Leimk ¨ uhler, S. ¨ Dehning, and N. Muller. (2002). Facility Based Cross-Sectional Study ¨ of Self Stigma Among People With Mental Illness : Towards Patient Empowerment Approach,” International Journal of Mental Health Systems, vol. 7, no. 1, article no. 2.
Corrigan, P. W., & Watson, A. C. (2002). Understanding the impact of stigma on people with mental illness. World psychiatry : official journal of the World Psychiatric Association (WPA), 1(1), 16–20.
I. I. Panes, C. P. Tuppal, M. D. C. Reñosa, M. E. P. Baua, and P. D. (2018). Family Experiences of Mental Illness: A Meta-Synthesis. Nurse Media Journal of Nursing, vol. 8, no. 2, pp. 102-112.
Penulis : Muhammad Dicky Alif M
Editor : M. Elysa Nasri Giovanni
