Apa yang biasa kamu lakukan saat waktu luang? Sebagian dari kalian mungkin menghabiskan waktu luang dengan rebahan sambil berselancar di sosial media, atau mungkin kalian termasuk orang yang merasa terlalu sibuk bekerja hingga merasa tidak memiliki waktu luang. Belakangan ini, banyak sekali anggapan bahwa tingkat produktivitas seseorang diukur dari seberapa sibuk mereka. Semakin terlihat sibuk seseorang dengan pekerjaannya, semakin mereka terlihat produktif. Namun benarkah demikian?
Occupational Imbalance : Ketika Okupasi Tak Seimbang
Dalam Occupational Therapy Practice Framework : Domain and Process Edisi ketiga yang diterbitkan oleh American Occupational Therapy Association pada tahun 2014, area okupasi terbagi menjadi 8 kategori, yaitu : Activities of daily living (ADL), instrumental activities of daily living (IADL), rest and sleep, education, work, play, social participation, dan leisure. Jika seseorang mengalami hambatan dalam salah satu area okupasi tersebut maka dapat terjadi occupational imbalance atau ketidakseimbangan dalam okupasi. Salah satu kunci penting agar seseorang dapat meningkatkan well-being nya adalah dengan menyeimbangkan okupasinya dalam kehidupan sehari-hari. Okupasi yang dimaksud disini bukan hanya mengenai pekerjaan atau work, namun juga area okupasi lainnya seperti leisure (Anaby et al., 2010).
What They Think about Leisure
Sayangnya, seringkali leisure atau pemanfaatan aktivitas waktu luang dianggap tidak penting dan tidak memiliki manfaat. Padahal jika kita dapat menggunakan waktu luang dengan efektif, leisure dapat berperan dalam menyeimbangkan kehidupan seseorang dan meningkatkan kesehatan, well-being, dan kepuasan hidup (Caldwell & Smith, 1988; Christiansen, 1991; Melamed & Meir, 1995; Meyer, 1922 dalam Suto, 1998). Menurut data dari Global GFK, pada tahun 2018, 54% pekerja di Amerika Serikat tidak menggunakan jatah hari libur mereka sama sekali. Data lain menunjukkan, para pekerja hanya menggunakan 77% dari jatah hari libur mereka. Para pekerja berpendapat bahwa mengambil hari libur dapat menghambat kemajuan karir mereka, time is money. Selain itu, kebanyakan pekerja memilih untuk membawa pekerjaan mereka ke rumah demi menghindari beban keja yang berlebih di kemudian hari (Torres et al., 2021).
Memanfaatkan Aktifitas Leisure
Seorang penulis asal Inggris, James Wallman, dalam bukunya yang berjudul Time and How to Spend it, membagikan beberapa hal yang dapat kita perhatikan dalam memilih aktivitas untuk mengisi waktu luang atau leisure agar manfaatnya dapat kita peroleh secara optimal. James Wallman menuliskan terdapat tujuh hal yang harus diperhatikan sebelum memilih aktivitas leisure yang tepat.
- A story to be shared
Aktivitas leisure sebaiknya dapat memberikan suatu cerita yang dapat kita bagikan kepada orang lain, sebagai contoh, menghabiskan leisure dengan mengunjungi tempat wisata bersama teman tentu akan meninggalkan cerita yang lebih menarik dibanding hanya menonton TV di rumah. Dengan berbagi cerita yang menarik ini, kita dapat meningkatkan keterhubungan dengan orang lain.
- To be a better person
Leisure hendaknya dapat mengubah diri kita menjadi lebih baik. misalnya dengan mempelajari suatu ketrampilan baru seperti memasak atau belajar bahasa baru.
- To be mindful
Melakukan aktivitas leisure yang efektif dapat memutuskan kita dari dunia maya sehingga dapat menjadi lebih ‘hadir’ atau ‘mindful’ di dunia nyata.
- To be connected
Leisure dapat mengeratkan hubungan kita dengan orang lain. Menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga dapat mempererat hubungan dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
- To challange you
Aktivitas leisure yang intens dan menantang seperti bertanding sepak bola atau bertanding catur bersama teman dapat menuntun kita untuk mendapatkan manfaat leisure dengan optimal. Kita dapat merasa bahagia saat menggunakan sepenuhnya ketrampilan yang kita miliki.
- To amaze you
Pilihlah aktivitas leisure yang membuatmu terpukau seperti menyaksikan matahari terbenam, mengunjungi pameran, atau bepergian ke tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
- To promote social status
Hal terakhir yang harus diperhatikan saat memilih aktivitas leisure adalah status sosial. Aktivitas leisure yang baik dapat meningkatkan status sosial seperti dengan menjadi relawan atau mengikuti kursus bersertifikat. Suatu penelitian menemukan bahwa orang dengan status sosial tinggi memiliki kesehatan yang lebih baik dan lebih bahagia.
Di zaman yang serba cepat ini, kita seperti dituntut untuk menjadi selalu produktif. Tanpa sadar kita menjadi mudah lelah baik secara fisik maupun mental. Untuk itu kita perlu sesekali mengambil jeda dan mengisi kembali energi kita, salah satunya dengan memanfaatkan leisure dengan tepat.
“Leisure tidak dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang kecuali mereka tahu bagaimana menggunakannya dengan efektif.” Ungkap Wallman seperti yang dikutip dalam CNBC Make It.
REFERENSI
American Occupational Therapy Association. (2017). Occupational Therapy Practice Framework: Domain and Process Third Edition. AOTA Press. Vol. 68, S1-S48. https://doi.org/10.5014/ajot.2014.682006.
Anaby, D., Jarus, T., Backman, C. L., & Zumbo, B. D. (2010). The role of occupational characteristics and occupational imbalance in explaining well-being. Applied Research in Quality of Life, 5(2), 81-104.
Steig, Cory. (2019). You’re Spending Your Free Time Wrong — Here’s-What to do to be Happier and More Successful. Diakses dari https://www.cnbc.com/2019/11/06/how-successful-people-spend-leisure-time-james-wallman.html .
Suto, M. (1998). Leisure in occupational therapy. Canadian Journal of Occupational Therapy, 65(5), 271-278.
Torres, E. N., Yost, E., & Ronzoni, G. (2021). No vacation needed: an exploration on why American hospitality workers won’t use up their vacation days. Journal of Human Resources in Hospitality & Tourism, 20(2), 222-248.
Wallman, James. (2019). Time and How to Spend It. London: Virgin Digital.
Penulis: Hanifa
Editor: Riama Claudia
