Penanganan Terapi Okupasi Pada Luka Bakar

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, luka bakar menyebabkan sekitar 195.000 jiwa meninggal di Indonesia setiap tahun. Data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan (Kemkes) 2013 mencatat, luka bakar menempati urutan keenam penyebab cedera tidak disengaja (unintetional injury) dengan tingkat prevalensi 0,7 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Riset Kemkes tersebut juga menekankan anak-anak usia 1-4 tahun menjadi kelompok umur paling rentan terkena luka bakar dengan tingkat prevalensi sampai 1,5 persen. (Haryani, Indah. 2019)

Luka bakar pada tubuh dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan gangguan psikologis. Dengan adanya luka bakar ringan di tangan saja dapat menyebabkan hilangnya fungsionalitas tangan sebesar 54% dari total fungsionalitas mereka. Oleh karena itu, penting untuk melakukan perawatan komprehensif pada luka bakar karena luka bakar ringan sekalipun pada tangan dapat berpengaruh pada aktivitas sosial, psikologis, estetika, serta fungsi tangan yang terbatas  (Aghajanzade. 2019). 

Luka bakar yang parah pada tangan dapat berdampak pada banyak area kehidupan, seperti :

  1. Kemampuan untuk membersihkan diri dan berpakaian secara mandiri, seperti membuka botol, membersihkan gigi, mencukur, menyalakan dan mematikan keran, keluar masuk kamar mandi, mengancingkan baju, maupun berpakaian.
  2. Kemampuan untuk mempersiapkan makanan, seperti menggunakan alat masak
  3. Gangguan tidur
  4. Sakit dan kelelahan
  5. Mobilisasi
  6. Menyetir
  7. Adanya bekas luka pada kulit yang terkena
  8. Berkurangnya fungsional tubuh
  9. Kontraktur 

Luka bakar dapat disebabkan oleh suhu, zat kimia, listrik, maupun radiasi. Suhu terlalu panas maupun terlalu dingin dapat menyebabkan luka bakar, seperti api,zat kimia seperti soda api dan air aki, sengatan listrik, termasuk radiasi matahari. Bila kulit bersentuhan dengan benda yang suhunya sangat rendah dalam waktu yang lama dapat menyebabkan Ice burn. Ice burn adalah kondisi radang dingin akibat es batu atau suhu yang sangat dingin. Radang dingin atau frostbite tersebut merupakan kondisi ketika jaringan tubuh membeku dan rusak oleh paparan suru rendah (dingin). Awalnya kulit akan terasa sangat dingin, kemerahan, perih, dan lama kelamaan mati rasa. Meskipun kompres dingin dengan es batu sering  menjadi pertolongan pertama pada cedera, bila es batu langsung ditempelkan ke kulit tanpa dibalut kain kulit justru dapat menyebabkan radang. Bukannya mengobati cedera, malah menambah parah dengan adanya radang dingin. 

Berdasarkan kedalaman kerusakan akibat luka bakar, penggolongan luka bakar dapat dibagi menjadi 3:

  1. Luka bakar superfisial (derajat I)

Luka bakar ini hanya meliputi lapisan kulit paling atas saja (lapisan epidermis). Luka bakar ini biasanya ditandai dengan kemerahan, rasa nyeri, dan terkadang membengkak.

  1. Luka bakar derajat II (sedikit lebih dalam dari derajat satu)

Luka bakar ini meliputi kerusakan lapisan paling luar kulit dan mengganggu lapisan di bawahnya dengan ditandai munculnya gelembung-gelembung yang berisi cairan di bawah kulit, bengkak di sekitar luka, kulit berwarna kemerahan atau bahkan menjadi putih, kulit lembap, dan rusak. Pada tingkatan ini, ciri yang paling khas adalah rasa nyeri yang hebat.

  1. Luka bakar derajat III

Pada luka bakar tingkat ini, lapisan yang terkena luka bakar tidak terbatas, bahkan bisa sampai ke tulang dan organ dalam. Luka bakar ini merupakan tingkat yang paling berat, biasanya ditandai dengan kulit menjadi kering, pucat atau bahkan putih, namun bisa juga gosong dan hitam. Berbeda dengan derajat satu dan dua, luka bakar derajat tiga ini tidak menimbulkan nyeri. 

PERAN OKUPASI TERAPI DALAM PERAWAN LUKA BAKAR

Pelayanan rehabilitasi pada pasien luka bakar mencakup pemulihan dan peningkatan kekuatan. Menjalani rehabilitasi dapat membantu pasien memahami sejauh mana masalah luka bakar yang dialamidan mendorong pasien melakukan aktivitas yang melibatkan area luka bakar. Fokus utama rehabilitasi adalah memulihkan fungsionalitas dan memperbaiki penampilan di area luka bakar (Tilley W. 2000).

Peran Fisioterapi dan Okupasi Terapi pada kasus luka bakar ialah  menyarankan penggunaan bidai dan melakukan terapi untuk membantu penyembuhan luka, mencegah deformitas, manajemen nyeri, membantu pasien beradaptasi dengan aktivitas sehari-hari dengan alat bantu, dan melatih pasien untuk menggunakan alat bantu tersebut. Fisioterapi dan Okupasi Terapi akan mengembangkan aktivitas terapeutik untuk meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi ketegangan pada kulit, mempertahankan rentang gerak dan kekuatan otot, serta meningkatkan fungsional secara keseluruhan (Omar MT. 2012), Fokus utama terapi okupasi adalah membantu mempertahankan dan meningkatkan kemampuan pasien untuk berfungsi dalam bekerja, melakukan aktivitas sehari-hari, dan waktu luang agar dapat kembali ke kehidupan sosial yang normal. Intervensi sedini mungkin dengan terapi okupasi bertujuan untuk mencapai hasil terapi yang optimal. Oleh karena itu, program terapi okupasi yang komprehensif diperlukan untuk membantu pasien mendapatkan kembali sebagian besar fungsi tangan pasien (Aghajanzade. 2019).

Penelitian yang dilakukan oleh (Aghajanzade. 2019)   menemukan bahwa intervensi Okupasi Terapi seperti latihan gerakan aktif atau pasif, latihan peregangan, pembidaian, dan melatih pasien melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan pasien, menunjukkan dampak positif pada kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik. 

Okupasi Terapi dapat membantu pasien dengan beberapa cara, antara lain :

  1. Pembalutan dengan perban
  2. Program manajemen bekas luka, termasuk aktivitas untuk meningkatkan rentang gerak sendi
  3. Anjuran teknik untuk membuat tantangan menjadi lebih mudah. Contohnya teknik agar pasien dapat mengenakan pakaian dengan lebih mudah.
  4. Penyediaan alat bantu kecil untuk membantu di sekitar rumah 
  5. Penyediaan peralatan besar, seperti kursi roda atau tempat tidur
  6. Edukasi tentang manajemen nyeri
  7. Melakukan modifikasi rumah, seperti adaptasi dapur dan kamar mandi
  8. Kegiatan masyarakat dan pelatihan perjalanan (travel training)
  9. Memberikan dukungan pada aktivitas mengemudi
  10. Kembali bekerja atau mengikuti pendidikan

Referensi

Aghjanzadeh, M. Saberi, M. Momeni, M, Kheirkhah. R. (2019). Effectiveness of Incorporating Occupational Therapy in Rehabilitation of Hand Burn Patiens. Annalls of Burn and Fire Disasters. 32(2). 147-152

OTPractice. Burn. Diakses tanggal 9 Juli 2021. Dari https://www.theotpractice.co.uk/how-we-help/conditions/burns

Safitri, Adelia Marista. 2021. Mengenal Ice Burn, Kondisi Kulit Terbakar Akibat Es Batu. Diakses tanggal 23 Juli 2021. Dari https://hellosehat.com/penyakit-kulit/kulit-lainnya/kondisi-ice-burn/

Sendy, Ester Grace. (2017). Mengenal Luka Bakar. Diakses tanggal 9 Juli 2021. Dari https://rsgm.maranatha.edu/2017/04/19/mengenal-luka-bakar/

Penulis : Fitria Muhaimin

Editor  : Riama Claudia Christine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *