Perasaan cemas merupakan hal yang sangat wajar untuk dimiliki semua orang. Ada begitu banyak hal-hal yang mungkin membuat kita merasa takut, khawatir, atau cemas. Beberapa diantara kita mungkin takut pada hewan tertentu, takut pada gelap, takut pada suatu benda, dan masih banyak hal lain yang bisa membuat kita, termasuk anak merasa takut atau cemas. Kecemasan dapat muncul sebagai rasa takut atau khawatir, tetapi juga dapat membuat anak mudah tersinggung dan marah. Beberapa anak menyimpan kecemasan untuk diri mereka sendiri sehingga gejalanya tidak dapat diketahui (CDC, 2021).
Tiga gejala kecemasan pada anak (Deibel & Alfano, 2011), yaitu :
- Gejala fisik
Ketakutan atau kecemasan pada anak dapat mempengaruhi hampir semua respon tubuh seperti, sakit kepala, sakit perut, berkeringat, kesulitan bernafas, mual, sakit tenggorokkan, dan keluhan lainnya lagi. Setiap anak menunjukkan respon tubuh yang berbeda-beda. Pada beberapa anak mungkin tidak menunjukkan respon tubuh sama sekali.
- Gejala kognitif
Ketika anak merasakan kecemasan, mereka memiliki pemikiran negatif yang belum tentu terjadi. Sebagian dari mereka juga sulit mengekspresikan ketakutannya. Mereka mungkin hanya mengungkapkan “aku pusing; aku tidak tahu; aku takut”. Munculnya gangguan kognitif akan lebih banyak dialami dibandingkan dengan gangguan fisik seiring dengan pertambahan usia dan perkembangan kognitif anak.
- Gejala perilaku
Respon perilaku merupakan komponen yang paling mudah dilihat ketika anak sedang merasakan ketakutan atau kecemasan. Anak mungkin akan menangis, tidak ingin lepas dari orang tuanya, atau mengamuk. Pada situasi atau kondisi tertentu anak mungkin menunjukkan perilaku melawan untuk menghindari penyebab ketakutannya. Sebagai contoh, anak yang menolak pergi ke sekolah karena ia belum bisa membaca.
Ketika seorang anak tidak berhasil mengatasi ketakutan atau kekhawatirannya, menunjukkan minimal 3 dari gejala-gejala diatas, dan hal tersebut mengganggu fungsi kehidupan seperti aktivitas sekolah, rumah, atau bermain dalam kurun waktu lebih dari 6 bulan, dan anak tidak memiliki diagnosis lain sebelumnya yang mempengaruhi kondisi mentalnya, maka anak tersebut dapat didiagnosis dengan gangguan kecemasan (CDC, 2021; APA, 2013).
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan pada anak :
- Membantu anak untuk mengontrol rasa takutnya.
Ketika anak takut pada sesuatu, kita tidak membiarkan anak menghindari penyebab rasa takutnya, akan tetapi membantu anak untuk menghadapinya. Seiring berjalannya waktu, maka perasaan takut itu akan berkurang.
- Memberikan energi positif yang realistis.
Ketika anak mengutarakan kecemasannya, kita tidak bisa menjanjikan anak bahwa semua akan baik-baik saja. Hal yang dapat kita sampaikan adalah walaupun yang ia cemaskan terjadi, si anak akan baik-baik saja, bahwa ia bisa menghadapi dan mengatasinya. Hal tersebut akan memberikannya pengertian dan keberanian bahwa jika ia melakukan kesalahan ataupun mencoba tapi gagal, Anda sebagai orang tua akan tetap mendukungnya. Orang tua yang membangun kedekatan yang baik dengan anak dapat mengurangi kecemasan, meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri, serta memiliki kecerdasan moral yang lebih baik.
- Menghargai perasaan cemasnya, tetapi tidak mendukungnya.
Ketika anak takut untuk pergi ke dokter, kita sebaiknya tidak serta merta memaksa anak untuk menjadi berani pergi ke dokter. Kita bisa menyampaikan bahwa kita memahami ketakutan anak untuk pergi ke dokter, tetapi hal tersebut merupakan suatu kebutuhan, dan kita akan berada di sisinya untuk menemaninya.
- Membawa anak ke tenaga ahli kesehatan mental.
Apabila kecemasan anak berlarut-larut dan bertambah buruk, maka membawa anak ke tenaga ahlinya sangat dianjurkan. Setiap anak bisa menimbulkan respon yang berbeda-beda pada suatu intervensi. Orang tua bisa mendiskusikannya bersama tenaga profesional (dokter, terapis, psikolog, dll) mengenai respon yang diberikan anak terhadap suatu tindakan untuk memberikan hasil intervensi yang lebih baik.
- Penerapan intervensi terapi perilaku (CBT)
Terapi perilaku telah menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi kecemasan pada anak bahkan jika disertai dengan kondisi penyerta lainnya. Tujuan utama penerapan terapi perilaku adalah mengubah pengalaman belajar dan pola pikir yang maladaptif. Proses mengubah pemikiran maladaptif dapat dilakukan dengan restrukturisasi kognitif, pemaparan berulang dan mengurangi respon menghindar. Restrukturisasi kognitif dilakukan dengan membantu anak untuk mengidentifikasi serta menemukan cara untuk mengatasi rasa takutnya. Disamping itu, terapi perilaku juga digunakan untuk membangun keterampilan anak, karena anak dengan kecemasan seringkali mengalami kesulitan dalam mempelajari suatu keterampilan, atau tidak mampu menggunakan keterampilan yang dimiliki (Seligman & Ollendick, 2011).
Sebenarnya, memiliki perasaan takut, khawatir, ataupun cemas merupakan hal yang wajar untuk dimiliki semua anak. Akan tetapi, jika hal tersebut mempengaruhi fungsi sosial atau kehidupan anak maka hal tersebut menjadi suatu masalah yang perlu diatasi. Kecemasan pada anak yang sudah mengganggu aspek kehidupan membutuhkan penanganan segera sebelum bertambah parah dan mempengaruhi akademik, emosional, dan perkembangan sosial anak.
Referensi
Anxiety Disorders Association of America. (n.d.). Anxiety Disorders in Children.
American Psychiatric Association. (2013). DSM-5 (5th ed.).
Beidel, D. C., & Alfano, C. A. (2011). Child Anxiiety Disorders. Taylor & Francis e-Library.
Cenceng. (2015). Perilaku Kelekatan Pada Anak Usia Dini (Perspektif John Bowlby). Lentera, IXX(2), 141–153.
Centers fro Disease Control and Prevention. (n.d.). Anxiety and Depression in Children. Retrieved June 24, 2021, from https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/depression.html
Goldstein, C. (n.d.). How to Cope With an Anxious Child | Anxiety in Children. Retrieved June 24, 2021, from https://childmind.org/article/what-to-do-and-not-do-when-children-are-anxious/
Seligman, L. D., & Ollendick, T. H. (2011). Cognitive Behavioral Therapy for Anxiety Disorders in Youth. National of Health Institutes, 8479(540), 1–19. https://doi.org/10.1016/j.chc.2011.01.003.Cognitive
Penulis : Riama Claudia
Editor : Muhammad Dicky Alif M
