Individu dengan kondisi difabel memiliki beberapa keterbatasan baik dalam hal fisik, sensori, mental, dan intelektual. Keterbatasan yang mereka miliki, terkadang bisa menjadi salah satu fakor risiko untuk mengalami kejadian kekerasan, ekploitasi, dan pelecehan (Curry et al., 2009). Sayangnya penelitian tentang kekerasan terhadap individu dengan kondisi difabel jarang dilakukan, dengan alasan keterbatasan metodologi dan sampel berbasis populasi, sehingga gambaran data tentang kekerasan pada disabilitas seperti fenomena gunung es yang sulit untuk dijelaskan secara pasti (Schröttle & Glammeier, 2013).
Ada beberapa faktor risiko penyebab individu dengan kondisi difabel lebih berpotensi mengalami kekerasan, beberapa diantaranya adalah gender, status ekonomi, jenis disabilitas yang dialami, kurangnya perawatan kesehatan, kurangnya pengetahuan yang mereka miliki, kurangnya kepedulian dari keluarga dan masyarakat, serta lingkungan/ aksesibilitas yang buruk. Beberapa peneliti menjelaskan bahwa individu dengan kondisi difabel cenderung memiliki derajat kemandirian yang terbatas/ memerlukan bantuan orang lain dalam aktivitas sehari-hari. Kelompok yang paling beresiko mengalami pelecehan adalah kelompok individu dengan hambatan komunikasi dan kognitif/ intelektual (Powers, et al,2009).
Penting untuk dicatat bahwa ketergantungan mereka pada orang lain akan meningkatkan resiko kejadian kekerasan dan ekpolitasi (Curry, et al,2009). Tidak hanya faktor keterbatasan/ disabilitas yang mereka miliki saja penyebabnya, peneliti lain juga menjelaskan bahwa kurangnya support system dan kepedulian orang-orang di sekitar individu difabel juga menjadi faktor yang memperburuk, seperti kurangnya empati dan ketidakpedulian (Swedlund & Nosek, 2000).
Lalu apa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah kejadian ini supaya tidak terjadi lagi pada individu difabel? Salah satu contohnya adalah Program Kesadaran Keselamatan untuk Wanita Difabel atau “A Safety Awareness Program for Women with Disabilities (ASAP for Women)” . Program ini berisi materi tentang pendidikan dan pelatihan perawatan diri, keterampilan komunikasi, dan cara menjaga kesehatan/ keselamatan diri untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang keterampilan self-efficacy dan safety dalam mencegah kekerasan atau pelecehan seksual terhadap penyandang disabilitas.
Program ini juga menawarkan bantuan teknis dan konsultasi terhadap individu dengan kondisi difabel dan organisasi difabel yang mencari informasi atau panduan untuk mengurangi resiko pelecehan terhadap orang-orang dengan kondisi disabilitas, Hasil dari program ASAP for women berupa peningkatan dalam keterampilan self-efficacy dan safety. Meskipun tidak signifikan secara statistik, namun terjadi perubahan perilaku yang terjadi baik bagi tenaga pelayaan disabilitas, juga pada perilaku kemandirian individu difabel dalam hal keterampilan keselamatan (Hughes, et al 2014).
Referensi
Curry, M.A., Renker, P., Hughes, R.B., Robinson-Whelen, S., Oschwald, M, Swank, P.R & Powers, L.E. 2009. Development of Measures of Abuse Among Women With Disabilities and the Characteristics of Their Perpetrators. Violence Against Women 15(9): 1001-1025.
Hughes, susan robinshon. W, Emily M. Lund . 2014. A safety awareness program for Women With Disabilities, A randomized controlled trial.
Powers, L.E, Renker, P., Robinson-Whelen, S., Oschwald, M., Hughes, R., Swank, P. & Curry, M.A. 2009. Interpersonal Violence and Women With Disabilities: Analysis of Safety Promoting Behaviors. Violence Against Women, 15, 1040-1069.
Schröttle, M. & Glammeier, S. 2013. Intimate Partner Violence Against Disabled Women as a Part of Widespread Victimization and Discrimination over the Lifetime: Evidence from a German Representative Study. International Journal of Conflict and Violence 7(2): 232-248.
Swedlund, N.P., Nosek, M.A. 2000. An exploratory study on the work of independent living centers to address abuse of women with disabilities. Journal of Rehabilitation 66(4):57-64.
Penulis : Gunawan
Editor : Elysa
